Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang digunakan dalam praktik-praktik keagamaan, dalam navigasi, dan bercocok tanam. Kalender Gregorian, yang digunakan hampir di semua bagian dunia, adalah kalender Matahari, mendasarkan diri pada posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, Matahari. (Kutipan artikel wikipedia.org: bintang).
Matahari dalam susunan tatasurya tempat manusia tinggal dapat dilihat dengan mudah setiap hari, tidak demikian matahari yang berasal dari tatasurya lain, terlihat hanya seperti kerlipan cahaya terang atau umumnya manusia menyebut bintang. Jadi matahari itu sebenarnya bintang karena dapat memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru alam semesta, sehingga pada siang hari terlihat terang benderang dan pada malam hari terlihat bulan yang sangat indah dilangit saat purnama tiba.
Matahari atau bintang, cahayanya tidak terpengaruh oleh benda angkasa lainnya, karena sumber cahaya itu berasal dari perubahan massa menjadi energi pada dirinya sendiri. Keunikan sipat matahari ini sering dijadikan suatu analogi keteladanan dari suatu kepemimpinan, yaitu sifat-sifat teladan dari seorang pemimpin yang bisa dicontoh oleh manusia lain sehingga bermanfaat, sebagaimana cahaya matahari.
Gambar susunan tatsurya beserta planet-planet yang mengikuti
Gambaran teladan kepemimpinan yang utama yang diambil dari sifat bintang atau matahari :
- Bintang/Matahari memiliki sumber energi sendiri, sehingga cahayanya tidak dapat dipengaruhi oleh benda angkasa lainnya. Kalau seorang pemimpin yang kuat memiliki sifat keberanian dan kebaikan yang bersumber dari keyakinan dan keimanan, maka perbuatan baik dan suri tauladannya tidak akan melemah karena tekanan orang lain ataupun kondisi-kondisi yang kurang.
- Bintang menjadi penentu posisi bagi pelayaran dimalam hari, penentu koordinat peta angkasa luar sehingga ada peta bintang. Kalau seorang pemimpin yang bijaksana bisa menjadi petunjuk dan pengarah dalam menyelesaikan masalah-masalah, sehigga hal-hal yang ragu-ragu terlihat menjadi jelas arah kebenaran.
- Cahaya matahari menyinari bulan, sehingga bulan seperti bersinar dimalam hari, memberikan energi untuk proses terjadinya angin laut dan angin darat saat pergantian siang dan malam, membantu proses photosistesis tumbuh-tumbuhan dan masih banyak proses dipermukaan bumi yang membutuhkan cahaya matahari. Kalau seorang pemimpin yang tidak serakah dan tidak egois akan dapat membawa dan membantu orang lain kepada kesejahteraan dan terpenuhinya berbagai kepentingan.
- Matahari (Bintang)selalu dikitari oleh planet-planet, namun tidak menjadikan planet-planet saling bertubrukan atau lepas dari peredaran, karena Tuhan YME sudah menciptakan kekuatan gaya tarik-menarik, gravitasi dan magnet yang sedemikian seimbang. Kalau seorang pemimpin yang berwibawa, berwawasan luas dan memegang kepercayaan kepada Tuhan YME pasti dapat menjaga bawahan, sehingga tidak ada bawahan saling curiga dan lepas kendali, berusaha selalu menambah keimanan untuk dirinya sendiri atau mengajak orang lain, agamanya dilaksanakan tidak hanya ditempat beribadah saja, namun juga diterapkan pada kegiatan kepemimpian dan kehidupan sehari-hari.
- Dari bumi terlihat matahari selalu tepat waktu, terbit pada pagi hari dan terbenam pada sore hari. Kalau seorang pemimpin yang bersiplin maka akan mudah mengatur orang lain untuk disiplin kerja, disiplin mengunakan fasilitas dan uang dan disiplin menggunakan waktu.
Masih banyak hal-hal yang bisa diambil hikmahnya dari peristiwa matahari atau bintang, tapi setidaknya lima hal diatas hanyalah salah satu gambaran tentang kepemimpinan untuk menuju seorang pemimpin yang ADIL dan BIJAKSANA. Di jaman yang semangkin modern dan komplek ini tentu saja tidak sederhana lagi pola kepemimpinannya bahkan penulis sendiri tidak mampu mendefinisikan secara kongkrit pemimpin yang baik itu seperti apa karena banyak sekali bidang kehidupan manusia yang harus dipahami, namun demikian tetap saja modal dasar kepemimpinan yang harus dimiliki tidak lain adalah sifat-sifat terpuji yang bisa dijadikan contoh oleh orang lain, terutama sekali sifat ADIL dan BIJAKSANA. Pola kepemimpinan militer pasti bebeda dengan pola kepemimpinan demokrasi, demikian juga akan berbeda dengan pola kepemimpinan liberal. Menurut penulis, sifat ADIL dan BIJAKSANA itu yang paling dibutuhkan oleh semua orang baik pemimpin itu sendiri ataupun yang dipimpin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar