Ilmuwan sudah mengetahui sejak lama bahwa pencairan lapisan es di Arktik merupakan sumber emisi gas setara efek rumah kaca
yang memenuhi atmosfer, tapi mereka belum meyakini ukuran emisi
tersebut dengan konsekuensi perkembangan alam lebih lanjut lebih
memprihatinkan. Karbon dengan jumlah yang sangat besar tersimpan dalam
lapisan es, adanya pemanasan global akan semakin menambah jumlah karbon dioksida di atmosfer.
Permafrost
banyak ditemukan, tapi karakteristik ini lebih dominan berada di
sepanjang garis pantai Siberia, sekitar 7000 km timur Kutub Utara.
Lapisan tanah disini mencapai 30 meter telah dibekukan secara permanen
dengan suhu dibawah 0 derajat Celcius selama ratusan ribu tahun.
Permafrost berfungsi sebagai penopang garis pantai, tapi setelah
pencairan es lapisan-lapisan tanah mengikis dan runtuh ke dasar laut.
Bahan-bahan yang terkikis itu mengandung jutaan ton karbon kuno yang
disimpan utuh dalam lapisan beku permafrost. Dengan cara ini, karbon
kuno yang tersimpan sebelumnya menambah pemanasan global.
(Kutipan : kutub-utara-pemanasan-global)Permafrost di wilayah Kutub Utara diteliti melepaskan 44 juta ton karbon dioksida ke atmosfer setiap tahun, sedangkan bahan bakar fosil melepaskan 6000 hingga 7000 juta ton per tahun. Nilai yang kecil, tapi pelepasan karbon dioksida di Kutub Utara sangat mempengaruhi pemanasan global.
Banyak ilmuan melakukan penelitian tentang pengaruh mencairnya es di Kutub Utara, umumnya mereka menyimpulkan penyumbang efek global rumah kaca bukan hanya gas carbon hasil pembuangan pabrik atau asap dari kendaraan berbahan bakar minyak bumi, melainkan terlepasnya karbon yang terjebak dalam es ribuan tahun yang lalu mencair, sebagai contoh pada wilayah Utara Timur Laut Siberia. Sehingga laju perubahan efek global rumah kaca mengalami kenaikan secara drastis. Secara rinci silahkan lihat link berikut ini yang memuat proyek penelitian para ilmuan tersebut.
global carbon project, pdf-report, presentation
carboeur web_TCOS
Selama ribuan tahun, permafrost telah terperangkap tanah Siberia yang kaya karbon, kompos tanaman dan sisa-sisa hewan. Tapi pemanasan global mencairkan lapisan es dan mengekspos tanah, menyebabkan metana mudah terbakar untuk merembes keluar. Seperti pada video berikut ini :
Rawa ini sebelum merupakan hamparan salju yang telah mencair, dan mengeluarkan gas
Gas yang keluar dari dalam lapisan es bersifat mudah terbakar, karena mengandung metana
Scientist Sergei Zimov sedang mengambil contoh lapisan tanah yang banyak mengandung permafrost pada tebing The Duvanny Yar Cliff, sekitar 120 km (75 mil) dari kota di timur laut Siberia Chersky


Tidak ada komentar:
Posting Komentar